Sabtu, 04 Maret 2017

Menuju Bangsa Yang Lebih Baik

Apapun rupa dan seperti apapun bentuknya, garis keras bukan cara beragama yang baik bagi agama mana pun. Setidaknya ada empat tingkatan untuk membenahi hati agar terhindar dari lintas garis keras, yaitu yang pertama Aqidah yang merupakan sebuah ikatan antara manusia dan Tuhannya. Yang kedua adalah Ibadah sebagai bentuk komunikasi keduanya (manusia dan Tuhannya) yang ketiga adalah akhlak yang merupakan bentuk bersosial, sedikit menyinggung mengenai tanggapan masyarakan soal Akhlak, kebanyakan orang salah kaprah dalam mendefinisikan akhlak, bahwa akhlak menurut mereka merupakan "prilaku yang baik". Padahal itu salah. Sebab akhlak memiliki dua dorongan yang berlawanan, yaitu baik dan buruk. Definisi akhlak yang sebenarnya adalah "dorongan hati untuk melakukan sesuatu secara spontan." spontanitas manusia merupakan tindakan sigap tergantung kebiasaannya sehari-hari. Contoh kecilnya saja dari ucapan. Ketika hendak terjatuh, seseorang yang kebiasaannya berdzikir ia akan mengucapkan "subhanallah" secara spontan. Beda dengan orang yang kesehariannya berkata-kata kotor, misalnya, (maaf) "anjing". Spontanitas yang keluar saat terjadi musibah adalah kata "anjing". Kemudian yang kelima adalah Tasawuf, yang tujuannya membersihkan hati atau ruh. Saat hati mulai bersih, akan timbul rasa toleransi yang tinggi, seimbang, menengah, dan berprilaku adil.

Namun terkadang, seseorang hanya kuat dalam hal Aqidah dan Ibadah dan begitu sulit mencapai tingkatan ketiga yaitu akhlak yang merupakan hubungan atau cara bersosial.

Ada sebagian orang yang spontanitasnya kuat dalam hal ibadah dan Aqidah sehingga ketika ada sesuatu yang mengganggu aqidahnya dia akan bertindak untuk membela Aqidah keagamaannya. Seperti contoh yang terjadi belakangan yang sampai saat ini masih dalam proses hukum, yaitu kasus dugaan penodaan agama yang diduga dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok yang di perkarakan oleh Habib Rizieq Sihab. Dalam hal Aqidah dan Ibadah mungkin beliau sangat baik, terbukti dengan spontanitasnya bertindak menggerakkan massa menuntut ahok untuk segera diadili karna dinilai menghina Islam. Namun dalam akhlak, begitu lemah hingga mengesampingkannya karna kekuatan akidahnya. Seperti yang pernah terjadi, dengan teriakan takbir seluruh massa Habib Rizieq menuntut terduga penodaan agama.

Namun jika kita dapat melihat lebih jeli dan kritis dari sisi akhlak yang ditimbulkan, kasus yang terjadi beberapa hari lalu, dengan lantunan "takbir" membakar markas GMBI, dari segi akhlak hal ini dapat dikatakan jauh dari kata tepat. Sebab, seseorang yang aqidah dan ibadahnya baik bukankah seharusnya juga baik akhlaknya? Yang kemudian berlanjut pada tingkatan Tasawuf, yang intinya dilakukan secara berurut, dari Aqidah, Ibadah, Akhlak, lalu kemudian tasawuf. Sebagaimana Rasulullah diutus tak lain hanya untuk memperbaiki akhlak umatnya.

Dari peristiwa yang sering kali terjadi, secara pribadi tentunya kita dapat menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Bahwa dalam beragama, toleransi, keseimbangan, sikap menengah dan berprilaku adil sangat dijunjung tinggi, agar terwujud sosial yang baik dan menimbulkan spontanitas yang baik sehingga menjadi bangsa yang berakhlak baik (akhlakulkarimah) ala Nabi besar Muhammad SAW.

Refrensi:
Kesimpulan hasil belajar mata kuliah Ilmu Tasawuf karya Drs. Mahjuddin.

#NKRI