Jumat, 30 Juni 2017

Pesan Moral Untuk Islam Yang Tercemar

Indonesia. Tidak pernah bosan rasanya berbincang soal Indonesia dari segi apa pun. Dari kulturnya yang beragam, tradisi serta keyakinan yang berbeda-beda. Indonesia, dari keragaman tersebut lalu dibentuk suatu sistem sebagai alat pemersatu yang sejak dahulu masyarakat Indonesia telah menekuni sistem tersebut sebelum terbentuknya alat pemersatu yang kita sebut Pancasila. Disusul dengan UUD 45 yang sampai hari ini dan seterusnya menjadi rujukan hukum negara yang setiap penduduk Indonesia wajib mentaati nya.

Indonesia. Dahulu diperjuangkan oleh bangsanya sendiri yang beragam itu, dibangun oleh dasar persatuan, merdeka dengan titik darah penghabisan bersama. Indonesia berdiri atas dasar pengorbanan para tokoh. Tokoh nasionalis, komunis, ulama', santri, tokoh Kristen, Budha, Katolik, Hindu. Semua penduduk Indonesia bersama-sama mempertahankan Indonesia dari penjajahan jepang-belanda.

Indonesia. Negara milik bersama selagi bernama penduduk Indonesia, bukan negara kelompok tertentu. Mustahil Indonesia menjadi negara kelompok, karna Indonesia dibangun atas dasar persatuan. Persatuan etnis, ras, suku dan agama. Tidak mungkin negara ini menjadi Negara milik etnis, ras, suku atau agama tertentu. Pancasila dasar negaranya yang tak mungkin tergantikan oleh sistem lainnya, sebab yang cocok untuk Indonesia hanya Pancasila, tak ada lagi.

Pancasila diambil dari keseharian penduduk negaranya. Penduduk yang berketuhanan, rakyat yang berakhlak mulia antar tetangga, rakyat yang rukun antar ras, suku, dan agama, masyarakat yang memutuskan suatu permasalahan dengan bermusyawarah, bangsa yang menjunjung tinggi rasa keadilan bersosialnya. Begitulah rakyat Indonesia dari sebelum Pancasila itu ada, karna Pancasila jika diibaratkan hanya sebagai pengamat, sebab peraturan yang dibentuk dalam Pancasila dan UUD 45 diambil dari keseharian rakyatnya. Lantas, alasan bodoh apa yang membuat mu ingin mengubah Pancasila?

Perspektif Islam sangat luas, islam datang untuk memudahkan permasalahan duniawi dan ukhrawi, bukan malah merumitkan. Dalam suatu ilmu usul fiqh yang orang Madura zaman dulu menyebutnya istilah "illa" dalam bahasa Arab, atau dalam bahasa Indonesia" pengecualian, ada banyak penjelasan tentang "pengecualian" saat ada suatu permasalahan yang dirasa sulit untuk diikuti menurut syari'at. Seperti misalnya seorang ingin berwudlu, dalam aturan Islam wudlu adalah syarat sah shalat, maka sebelum melaksanakan suatu ibadah diwajibkan untuk berwudhu, syarat sah wudhu ialah menggunakan air bersih dengan menyirami air di seluruh anggota tubuh yang menjadi syarat sah berwudhu. Seperti wajah, kedua tangan, membasahi rambut, kaki sampai pergelangan. Namun, jika salah satu bagian tersebut seperti kaki misalnya terkena luka yang tidak boleh terkena air, maka di sana "pengecualian" berlaku. Setiap anggota tubuh yang menjadi syarat sah wudhu harus terkena air, "kecuali" bagian yang terluka dan tidak boleh terkena air.

Jika mengambil ibrah dari penjelasan di atas, bahwa kepemimpinan di Indonesia sudah diatur oleh negara dan telah melalui kesepakatan bersama antara kaum nasionalis bahkan ulama'. Siapa pun, selagi berstatus sebagai bangsa Indonesia berhak memimpin Indonesia atas dasar permusyawaratan dan perwakilan. Lalu bagaimana dengan Islam yang berkenaan dengan kepemimpinan tidak boleh dipimpin orang kafir? Coba kembali pada Ushul fiqih bab "illa" atau "pengecualian". Dan maaf, pemimpin Indonesia tidak memimpin umat Muslim saja, tapi memimpin bangsa Indonesia yang beragam. Kalau masih janggal dengan penjelasan saya, cobalah berpikir, karna Allah pun menganjurkan manusia untuk selalu berpikir. "La'allakum tafakkarun".

Intisari penjelasan H. Fauzan tokoh nasionalis yang tersembunyi.

Kamis, 15 Juni 2017

Apa Kabar Santri Individualis?

Ingatkah saat dahulu kita bersama diajarkan bagaimana meningkatkan ibadah? Ingatkah saat Asatidz memberi pemahaman dalam bersosial dengan memindah-mindahkan rayon (komplek) untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri baik sosial mau pun lingkungan? Kesemuanya mengajarkan bagaimana penerapan Islam yang sesungguhnya bukan?

Aku seorang petualang asal kepulauan Madura, berpetualang dari kota ku sendiri di Sampang sampai Sumenep (Pondok Pesantren Al-amien Prenduan) dalam upaya memperkaya pengetahuan. Sejak kecil aku diajarkan ketaatan kepada Tuhan (Allah), juga bagaimana menghargai manusia dan alam. Hal ini pun baru aku sadari setelah dikenalkan dengan istilah hablumminallah, hablumminannas wa hablumminal 'alam.

Kala kecil dulu aku dicekuki syari'at terutama dalam hal ibadah, sholat lima waktu dijaga dengan ketat, hingga aku dijebloskan ke dalam pesantren. Namun pesantren adalah kemauan ku sendiri selain orang tua, tidak lain untuk lebih memperdalam pengetahuan ajaran agama yang ditanamkan sejak aku kecil dulu. Pesantren adalah tempat di mana aku dilatih berdisiplin dalam segala hal baik syari'at, kemanusiaan, sampai bagaimana mencintai lingkungan.

Pendidikan mencintai Tuhan, manusia dan alam tampak jelas dengan tugas-tugas dari pesantren saat berlibur terjun di tengah masyarakat. Di mana kami diberi tugas untuk mencatat setiap kegiatan selama berlibur yang kemudian wajib melaporkan hasil tulisan yang kami (para santri) tulis selama liburan. Catatan tersebut berkenaan dengan mu'amalah ma'allah, mu'amalah ma'annas dan mu'amalah ma'albi'ah (lingkungan/alam).

Namun sebelum kami dilepas ke tengah-tengah masyarakat atau sebelum berlibur, di pesantren kami benar-benar dimatangkan terlebih dahulu, dibimbing bagaimana beribadah dengan menyesuaikan keadaan, bagaimana bersosial sesuai karakter manusia disekeliling, bagaimana mencintai alam dengan terus menjaga kebersihan dan tidak mencemari lingkungan. Artinya pesantren tidak memaksakan kami menerapkan mirip dengan apa yang diterapkan dalam pesantren, karena pesantren pun tahu bahwa untuk penerapan demikian butuh penyesuaian. Dakwah ala pesantren benar-benar mirip dengan sejarah perkembangan Islam saat dahulu disebarkan oleh pembawanya.

Tak lupa pesantren pun menegaskan bahwa urusan dengan manusia merupakan urusan yang paling rumit, sehingga dampaknya pun besar terhadap syari'at agama. Sang kiyai memberi contoh soal urusan dengan manusia yang rumit; yakni "ketika Anda melakukan kesalahan terhadap manusia, sebelum manusia tersebut memaafkan kesalahan mu maka Allah pun tidak akan pernah memaafkan mu". Hal tersebut cukup memberi pelajaran penting tentang kemanusiaan, bahwa urusan manusia sangat besar dampaknya terhadap keridhaan Allah.

Pesantren berperan penting dalam hal menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, hal ini tidak kemudian membuat seluruh santri peduli atas kemanusiaan, karna sebagian dari mereka cenderung mementingkan diri sendiri dalam hal urusan dengan Tuhan. Meningkatkan ibadah untuk diri sendiri, dan tak jarang melalaikan kewajiban menjaga manusia sekitarnya yang semestinya menjadi tanggung jawabnya sebagai orang yang lebih berwawasan.

Yang lebih ekstrim lagi sebagian mereka menyalah-nyalahkan santri lainnya yang sebenarnya memiliki wawasan luas soal agama, karna implementasinya bukan untuk diri sendiri, namun juga melirik mereka yang awam, kemudian sebagian santri individualis tersebut menganggap mereka liberal, bisa jadi karena santri individualis tersebut sibuk dengan urusan akhiratnya sendiri, sehingga tidak mampu melirik mereka yang di posisi bawah. Padahal mereka yang dianggap liberal sebenarnya memperjuangkan keduanya (urusan dunia dan akhirat). Ingatlah, urusan dunia tak kalah pentingnya, seperti yang tersirat dalam sebuah doa yang dikenal dengan sebutan doa sapu jagad. "Rabbana atina fiddunya Hasanah". Baru kemudian disusul dengan kalimat "wa fil akhirati Hasanah".

Pada akhirnya ketika santri yang dianggap liberal telah tiada, buku-buku karyanya menjadi rujukan. Setelah orang-orang menyadari pemikirannya waras-waras saja tidak seperti yang dituduhkan. Gus Dur yang dahulu dianggap bersekutu dengan kaum China karna meresmikan agama Tionghoa, kini mendapat julukan bapak Pluralisme, dan setiap mereka yang dianggap nyeleneh terbukti kebenaran tindakannya, mereka yang menyalahkan selalu menghilang. Padahal dahulu mereka yang paling aktif mencerca, mencaci maki sampai menghinakan, bahkan mengkafirkan.

Sebenarnya ada banyak hal yang ditanamkan sebelum pesantren melepas kami pulang, namun bagi saya urusan dengan manusia adalah urusan paling vital. Maka kemudian saya menyimpulkan pesantren tersebut sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, maka saya terheran-heran ketika ada sebagian santri lebih mementingkan individualnya, meningkatkan ibadah serta ke shalehan dirinya tanpa memperhatikan sekelilingnya.

#santri #pesantren #alamien #gontorponorogo #tebuireng #batabata #indonesia