Bangsa Yang Berbudaya
Judul Buku : Lupa 3ndonesia
Penulis : Sujiwo Tejo
Penerbit : (PT. Bentang Pustaka)
Cetakan : Cetakan Pertama Juli 2016
Tebal : 287 & 17 (Angka Romawi) halaman
Penulis Resensi : Imam Farid Hasan (16422191)
Buku ini di rajut dalam 7 bab, dengan dua non-bab (Pengantar dan Bukugrafi Sujewo Tejo). Pengantar: oleh Sujiwo Tejo, bab pertama: Rimba Manusia, bab kedua: Asal Usul: bab ketiga Watak dan Watuk: bab keempat: Keluargaku Istanaku, bab kelima: Rimba Raya Nusantara, terakhir: Bukugrafi Sujiwo Tejo).
Dari segi judul, sangat tampak sekali sebagai tamparan keras bagi kaum pemuda dan generasi-generasi penurus bangsa sebagai peringatan bahwa hari ini kita telah melupakan Indonesia. Salah satu yang kita lupakan adalah apa yang tertulis dalam buku ini sebagai pesan peringatan betapa pentingnya menjaga kebudayaan kita budaya Indonesia. Bagaimanapun, dilihat dari segi judul, buku ini, Lupa 3ndonesia (2016), terdapat banyak pesan penulis yang mendambakan terjaga dan terlaksananya budaya, karna pada saat yang sama ia menyiratkan kekhawatiran akan hilangnya kebudayaan yang mulai banyak melupakan, yang paling memprihatinkan adalah kondisi pemudanya yang kian menjauhi budayanya dan mendekati budaya asing. Hal ini amat mengkhawatirkan sekaligus memprihatinkan. Semenjak dahulu, budaya yang lahir dari nenek moyang, di wariskan secara turun temurun kepada penerusnya untuk di rawat dan di jaga oleh generasi selanjutnya.
Sebagai seorang budayawan, sudah seyogyanya Sujiwo Tejo terus menerus berupaya mempertahankan budaya yang ada di nusantara ini. Namun hal yang sulit bagi seorang budayawan, ialah bagaimana mengajak masyarakat untuk ikut serta menjaga dan menerapkan budaya yang ada dalam kehidupan sehari-hari yang tak lepas dari kebudayaan. Dalam buku yang tebalnya 287 ini mengandung ajakan penulisnya kepada masyarakat untuk ikut serta menjaga dan melestarikan kebudayaan yang sudah ada, sehingga budaya warisan nenek moyang kita terjaga dan terlaksana seutuhnya. Sinkatnya, harapan Sujiwo Tejo (menurut pemahaman penulis) ingin menjaga budaya bersama dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ataupun budaya dalam acara momentum seperti pernikahan misalnya. Masyarakat Indonesia yang berkebudaayaan hendaknya mempertahankan budaya yang ribuan jumlahnya. Alangkah sangat di sayangkan jika ragam budaya perlahan mati karna bangsanya sendiri yang perlahan mulai melupakan budayanya. Padahal, banyak Negara asing yang tertarik dengan budaya kita,
salah satunya adalah Malaysia yang mulai berani mengambil salah satu kebudayaan kita yang ada di Ponorogo sana (Reog Ponorogo). Kita baru menyadari betapa berharganya kebudayaan kita setelah orang lain hendak memungutinya setelah mereka menganggap kita membuangnya dengan melupakannya layaknya sampah.
Membaca buku ini, seperti kita sedang membaca dongeng dalam perwayangan. Yang menarik dari buku ini, tulisannya sangat kuat memadukan cerita wayang dengan realita yang terjadi belakangan ini. Buku ini syarat akan ajakan penulisnya kepada pembaca dan masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya yang mulai mati di tinggalkan pemiliknya seperti yang sudah penulis jelaskan di atas. Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, akibat pengaruh gelobalisasi yang amat kuat mempengaruhi calon penerus bangsa, yang mengakibatkan dampak negatif terhadap generasi yang seharusnya berperan penting dalam menjaga kebudayaannya sendiri. Contoh kecilnya, akibat dari pengaruh gelobalisasi, pemuda sebagai generasi penerus kini lebih memilih menyaksikan bioskop daripada pertunjukan perwayangan. Menghadapi permasalahan ini, sujiwo Tejo mencoba untuk melakukan upaya meminimalisirkan pengaruh negatif tersebut dengan karya bukunya yang berjudul “Lupa Indonesia” ini. Yang di dalamnya mengandung ajakan dan mengingatkan kembali pentingnya menjaga budaya sebagai bangsa yang bermoral dan berkebudayaan.
Ada pembahasan yang menarik terkait dengan pengeluaran fatwa MUI yang tidak memperkenankan bagi umat Muslim mengenakan atribut natal seperti kostum ataupun topi sinterklas sebagai simbol perayaan hari natal bagi umat Nasrani. Menanggapi hal ini, Sujiwo Tejo tidak ambil pusing menentukan sikapnya. Menurutnya, Santo Nikolas atau yang kita kenal sebagai Sinterklas merupakan legenda yang tidak jelas asal-usulnya. Yang awal mula munculnya Sinterklas di gembar-gemborkan oleh perusahaan minuman raksasa sehingga melekat di benak manusia. Dan tidak ada hubungan langsung dengan keyakinan Kristiani.
Sujiwo Tejo menghimbau, bahwa dalam mengenakan atribut natal kembali pada hati masing-masing penggunanya. Karna selama itu tidak mempengaruhi keimanan, sah-sah saja di lakukan. Pasalnya, menurut Tejo, atribut natal bukanlah simbol keyakinan Kristiani, melainkan hanya adat istiadat Kristiani yang mencintai legenda Sinterklas. Tejo juga memberi penjelasan dengan perumpamaan seseorang mencintai Kristiano Ronaldo misalkan, otomatis ia akan senang memakai atribut yang pernah di kenakan Ronaldo. Seperti itu pula kira-kira kecintaan Kristiani terhadap legenda Sinterklas. Tejo menambahkan pembanding sebagai acuan penguat pandangannya tersebut dengan melihat realita yang terjadi pada saat acara keagamaan lain seperti saat hari raya umat Muslim. Saat hari raya idul fitri ataupun idul adha, banyak kita lihat orang-orang di mall, di pasar, di jalan dan di mana-mana mengenakan kopyah, baju koko, kerudung (bagi kaum wanita) yang semuanya serentak mengenakan atribut Muslim meskipun bukan umat Muslim. Tak lain hanya sebagai sikap saling menghargai sebagai bangsa yang plural. Karna menurut Tejo, kopyah, baju koko, sarung danlain-lain bukanlah simbol Muslim, melainkan hanya adat istiadat di tanah melayu.
Memang, dewasa ini kita sering kali salah kaprah menilai sesuatu dan tidak dapat membedakan mana simbol mana budaya, bahkan tidak bisa membedakan mana simbol keislaman dan mana budaya kearaban. Nabi Muhammad mengislamkan Arab, bukan mengarabkan Islam. Artinya, islam tidak berarti harus berbudaya Arab, karna setiap Negara memiliki budaya tersendiri. Kita bangsa Indonesia. Berarti budaya kita budaya indonesia, maka islam kita adalah Islam Indonesia, Islam yang berkebudayaan Indonesia. Pandangan Sujiwo Tejo di atas tak luput dari balutan dongeng wayang yang di kaitkan dengan realita yang ada dan terjadi.
Ragam budaya tak terhitung jumlahnya yang kita miliki, merupakan identitas diri bangsa. Menjadi identitas diri artinya menjadi bagian dari diri. Menjaga diri berarti menjaga nama baik diri. Jika kita dengan penuh kesadaran menjadikan budaya sebagai identitas diri, maka dengan sendirinya budaya menjadi harga diri bangsa yang menjadi harga mati untuk di jaga dan di pertahankan. Ada toleransi Agama mengenai budaya yang membuat penulis kagum dan kebetulan dibahas dalam buku ini. Sikap saling menghargai satu sama lain antar umat beragama yang terjadi di Kudus menarik kiranya kita jadikan sebuah acuan untuk lebih saling memahami dan saling memahami satu sama lain. Di Kudus, sudah menjadi tradisi dan membudaya perihal toleransi antar agama yang saling menghormati dan saling menghargai kebudayaan dan keyakinan masing-masing yang bermula atas pesan Sunan Kudus kepada umat Muslim di Kudus untuk tidak menyembelih sapi. Karna sapi menurut keyakinan umat Budha adalah hewan mulia yang akan menyakitkan hati umat Budha jika umat muslim menyembelihnya, atas dasar itu, Sunan Kudus berpesan kepada umat Muslim di Kudus untuk tidak menyembelih sapi melainkan kerbau. Sampai saat ini sudah menjadi tradisi dan menjadi budaya bagi orang Kudus. Umat Muslim Kudus saat idul adha tidak menggunakan sapi sebagai kurban, melainkan kerbau. Bahkan makanan seperti soto, bakso danlain-lain semuanya di olah dari daging kerbau. Jika toleransi, tradisi, dan budaya berjalan seperti di kudus, alangkah indahnya menjalin hubungan dengan tidak berat sebelah.
Maka dari itu, penulis berharap masing-masing dari kita sebagai generasi penerus hendaklah mempertahankan dan menjaga dengan baik budaya warisan nenek moyang kita yang telah di percayakan kepada kita sebagai penerusnya yang sudah tiada dan tak dapat menjaga h,budayanya kembali. Maka tugas kitalah mempertahankan budaya kita. Budaya Indonesia. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa menjaga budaya sama dengan menjaga harga diri dan martabat diri sendiri. Akan terhina jika di hinakan, akan sakit bila di rendahkan, dan merasa sedih jika di tinggalkan. Sekian dan terimakasih, semoga adanya resensi ini bermanfaat dan menjadi renungan bagi pembaca sekalian di mana pun Anda berada. Amin.
www.bangsayangberbudaya.blogspot.com