Selasa, 10 Januari 2017

Pancasila Nyawa Bersama

Pancasila Nyawa Bersama

Bangsa bukanlah sekedar kelompok orang-orang atau komunitas yang di pandang dari segi jumlah,melainkan harus dilihat dari kesamaan pandangan mereka akan wujudnya dalam membangun kehidupan bersama. Untuk itu, mereka harus mempunyai identitas yang tercermin dalam suatu pandangan hidup (paradigma) yang di anut. Untuk bangsa Indonesia, pandangan hidup itu adalah Pancasila (Hamka Haq: ix: 2011).

Berbicara Pancasila, berarti kita sedang bicara bangsa Indonesia. Karna bangsa Indonesia tak pernah lepas dari pengawasan sang Garuda Pancasila sebagai ideologi bersama. Ideologi disini maksudnya bahwa, bangsa Indonesia secara sadar meyakini serta membenarkan atas mufakat bersama akan nilai-nilai yang terkandung dalam kerangka Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan sebagai pandangan serta prinsip hidup bernegara di negara Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama, negara ini (Indonesia) bukanlah negara yang di bangun atas dasar kesamaan Agama, sehingga ia tidak akan mungkin menjadi negara Agama. Indonesia sebagai negara yang pluralis menerima agama yang ada di Nusantara, saling menghargai keyakinan antar Agama serta gotong royong dalam sosial dan budaya. Indonesia berdiri atas perjuangan bersama, tidak memandang pihak siapa, kelompok apa, dan agama apa yang berjuang dalam mendirikan negara. Pejuang terdahulu melawan kolonialisme tak memandang apa pun kecuali melawan bersama demi cita-cita bangsa yang merdeka, berdaulat, makmur dan sentosa, terlepas dari penjajahan yang mendatangkan penderitaan serta hendak berkuasa di pulau Indonesia. Persatuan bangsa Indonesia melawan penjajahan menggambarkan bahwa Indonesia adalah milik bersama, bukan milik kelompok atau agama tertentu. Maka nilai yang di tanamkan dalam Pancasila tak akan mungkin memihak kelompok atau agama manapun, dan isinya sesuai dengan nilai agama masing-masing.

Dalam sudut pandang Islam, nilai-nilai yang tertanam dalam Pancasila sudah sesuai dengan syari'at Islam. Selain dalam Sila Pertama, syariat Islam yang dinyatakan dalam Piagam Jakarta sudah tercakup dalam pembukaan UUD 1945, ‘Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa’. Dengan demikian, dasar Negara ini sudah sesuai sekali dengan paham ahlusunnah wal jama‘ah yang berlandaskan syariah.

Penerimaan terhadap Pancasila tidak akan mengurangi atau merusak keimanan umat Islam Indonesia. Karena memahami argumen yang dikedepankan oleh pendahulunya, umat Muslim Indonesia mestinya membaca Pancasila sebagai kristalisasi dari paham keislaman.

Dari segi nilai keislaman, Pancasila sama-sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Bahwa Islam adalah agama yang berketuhanan seperti yang tertera dalam Pancasila sila pertama (Ketuhanan yang Maha Esa). Pada sila pertama ini mengandung ajaran ketauhidan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana tercermin dalam surat Al-Baqarah ayat 163.
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Baqarah: 163). Islam juga mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang adil serta menjunjung pribadi yang berakhlakul Karimah sesuai dengan sila kedua (kemanusiaan yang adil dan beradab). Dalam sila kedua ini mencerminkan nilai kemanusiaan dan bersikap adil, hal ini diperintahkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8.
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al-maidah: 8). Persatuan pula tak dapat dipungkiri termasuk nilai yang terkandung dalam agama Islam, bahwa Islam menyerukan nilai persatuan. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah meridloi kamu dalam tiga perkara, meridloi kamu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kamu berpegang teguh pada tali (agama) Allah dan tidak bercerai berai, dan kamu mengikhlaskan kecintaanmu terhadap orang yang diberi kekuasaan oleh Allah atau urusanmu. Dia membencimu dalam tiga perkara, yaitu cerita dari mulut ke mulut, terlalu banyak meminta, dan menyia-nyiakan harta”. (HR. Muslim). Sesuai dengan yang terkandung dalam sila ketiga yaitu (persatuan Indonesia). Pada sila keempat yang berbunyi (kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan) juga sangat jelas mengandung nilai-nilai Islam. Dalam sila keempat ini mencerminkan harus adanya hubungan yang erat antara rakyat dan pemerintahan dengan adanya musyawarah bersama, seperti yang disebutkan dalam firman Allah Surat Shaad ayat 20.
"Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (Qs. Shaad: 20).
Dan Surat Al-Imron ayat 159.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (Qs. Al-imran: 159). Sedangkan dalam sila terakhir yaitu sila kelima yang berbunyi (keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) sangat identik dengan nilai keislaman. Dalam sila kelima ini terkandung nilai-nilai keadilan yang berdasarkan pada firman Allah Surat An-Nahl ayat 90.
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran". (Qs. An-Nahl: 90).

Sebagai bangsa sekaligus Islam yang sadar akan nilai keislaman yang terkandung dalam Pancasila, marilah bersama bahu membahu menjaga Pancasila dengan mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah bangsa yang cerdas dengan mengedepankan prinsip beragama dan bernegara. Pancasila milik bersama, payung bersama dan nyawa bersama. NKRI harga mati.
"Bangsa yang bodoh adalah tanah suburnya kolonialisme" (Hamka Haq).

Serapan:
-Prof. Dr. Hamka Haq, M.A. Pancasila 1 Juni dan Syari'at Islam (Penerbit RMBOOKS PT. Wahana Semesta Intermedia Anggota IKAPI Graha Jakarta, Lt. 1: 2011).
-http://imanhsy.blogspot.co.id/2013/10/mensinergikan-nilai-nilai-pancasila-ke.html?m=1

Yogyakarta, 11 Januari 2016.
Imam Farid Hasan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar