Senin, 16 Januari 2017

Aku Ingin Menulis

Imam Farid Hasan:

Aku tak tau bagaimana memulai ceritanya. Padahal sangat ingin menulis ceritaku semalam. Terlalu rumit merumuskan satu persatu langkah menyusun cerita. Aku pun tidak tau tata menulis dengan baik sesuai aturan tulisan yang ada. Membuat ide, kemudian dikembangkan pada paragraf selanjutnya dengan gagasan dan ide yang mesti berkembang sesuai dengan yang diajarkan Jamil Abdul Aziz dalam kajian yang di selenggarakan di luar agenda kampus di warung kopi. Mungkin aku tuliskan saja semauku, 'sak karep-karepku'. Tak apalah membuat pembaca malas membaca, setidaknya terlebih dahulu aku memberi tahu, kalau tulisan ini 'sak karep dewe' dan membosankan.

Tulisan 'sak karep dewe', tanpa basa-basi dan tanpa muluk-muluk menyisipkan sinopsis di dalamnya, tanpa aturan tulis, sebab aku hanya ingin cerita tentang semalam. Judul pun aku tak punya. Mungkin tak usah judul, karna masih sulit menentukan ide hingga tak tau dari mana memulainya. Mungkin aku bisa meniru Mbah Tejo, yang tulisannya tak bisa meniru gaya tulisan orang lain. Atau mungkin meniru tulisan M. Nafis Purbayadin yang frontal dan instan 'blas' tanpa basa-basi? Mengingat tulisan hanya menuangkan pemikiran dan unek-unek dalam sebuah tulisan. Tetap saja belum bisa menentukan ide pokoknya, sampai berpikir harus mencari referensi. Aku ingat, dalam lemari kayu persegi panjang yang tegap berdiri di pojokan kamar yang di timbuni tumpukan buku tak tersusun itu, mungkin ada refrensi. Tapi, melihat baju-baju yang bergelantungan di pintu lemari itu malah menghilangkan selera menulisku.

Tak hanya selera menulisku yang hilang, 'mood' ku mencari refrensi juga ikut hilang. Pintu lemari dengan tumpukan pakaian bergelantungan bekas pakaianku itu malah merepotkan ingatan ku, semakin hilang saja ide yang mulai tadi di gadang-gadang menjadi tema tulisan. Ditambah isi lemari yang berserakan, tumpukan buku-buku bacaan dan kertas semrawut kocar-kacir. Kertas tulis, kertas printing bekas tugas-tugas kuliah yang habis dikerjakan hanya jadi simpanan dan sampah. Tapi aku harus tetap menulis. Ah, akhirnya aku menemukan refrensi yang mulai tadi dicari-cari sampai harus bongkar-bongkar lemari. Sekarang, giliran merapikan lemari. Memang tak mudah merubah kepribadian, kalau sudah malas ya malas saja. Merapikan lemari saja masih berbisik. "sudah, nanti saja dibereskan. Masih ada waktu buat bereskan lemari setelah menulis".

Akhirnya, aku tak jadi menulis. Haha..

Yogyakarta, 16 Januari 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar