Suatu malam ketika saya didatangi adik sepupu ba'da Maghrib mengajak bersiap diri saat hendak berangkat silaturahim ke rumah mertua bibi bersama Kakek (ayah bibi), bibi sendiri dan suaminya serta adik sepupu yang menjemput saya. Sebelumnya memang sudah diberi tahukan oleh bibi sore harinya bahwa malam nanti akan silaturahim ke rumah mertuanya. Sontak saya mempersiapkan diri, berdandan sederhana dengan rapi, Sesuai tradisi di rumah. Berpenampilan ala santri menjadi sebuah keharusan untuk menghormati tradisi turun temurun. Juga mencerminkan sikap ala manusia Madura saat hendak bersilaturahim ke sanak saudara.
Silaturahim merupakan bentuk hubungan komunikasi antar saudara, saling mendatangi satu sama lain sebagai bentuk mempererat tali persaudaraan, menyambung saudara dengan pernikahan anak cucu hingga terjalin hubungan persaudaraan yang erat dan dapat dihitung dengan mudah silsilah keluarga antar saudara. Begitu kiranya tradisi "nyareh Taretan" di Madura.
Setengah jam menempuh perjalanan ditemani jalan pelosok yang naik turun serta kondisi jalan yang kurang baik, cukup melelahkan. Setibanya di tempat, semua rasa pegal terobati. Pasalnya tuan rumah menyambut kedatangan kami dengan hangat dan sangat hormat, tak berlebihan jika saya mengatakan seperti kedatangan tamu agung. Menyalami kami satu persatu di halaman rumah diiringi dan dipersilahkan duduk di mushollah tradisional sederhana milik tuan rumah. Mushollah dengan ukuran kira-kira 3x4 persegi ini dibangun dengan model mushollah tradisional Madura, bangunannya keseluruhan terbuat dari kayu, pondasi menjadi penahan beban yang menjadi alas yang terbuat dari bambu dilapisi dengan tikar yang terbuat dari daun pandan duri. Sangat sederhana. Di alas itu kami dipersilahkan duduk, ditemani dengan obrolan ringan dengan senyum tulus tuan rumah yang menyambut hangat kedatangan kami.
Beberapa lama mereka berbincang saling menanyakan situasi pertanian satu sama lain, mengalir sampai merentet membahas saudara. Iya saudara. Sempat saya termenung ditengah perbincangan mereka, dari saya kecil selalu diingatkan untuk mencari saudara. Saudara berdasarkan silsilah keluarga yang wajib didatangi ketika dewasa kelak. Rupanya, manusia Madura sangat menghargai dan memperhitungkan hubungan persaudaraan, bahkan saudara yang terbilang jauh menurut silsilah keluarga. Saudara yang bahkan tak pernah berjumpa hanya tau bahwa saya bagian dari saudaranya, mereka menyambut begitu hangat seakan sudah mengenal puluhan tahun tanpa canggung. Sering kali keluarga saya berpesan untuk bersaudara dengan siapa pun saat di perantauan, yang artinya selama itu wujud manusia, maka itu saudara. Bercak kagum mulai timbul, entah padahal saya orang Madura, tapi masih ada rasa kagum saat saya mulai memahami kekuatan persaudaraan orang Madura. Sampai saya lupa didepan saya sudah disuguhi teh hangat oleh tuan rumah.
Berdasarkan tradisi lama di sana, lelaki seumuran saya dianggap belum meminati kopi. Maka jangan heran kalau saya disuguhkan teh, bukan kopi. Padahal saya juga peminat kopi. Memang setiap anggapan di Madura selalu membuat orang yang tidak pernah tahu Madura geleng-geleng kepala. Seperti sunatan. Anak laki-laki maupun perempuan sebelum disunat maka mereka belum dianggap sah keislamannya. Maklum mayoritas orang Madura memeluk agama Islam, maka sunatan dianggap sebagai syarat wajib masuk Islam selain syahadatain, termasuk kaum perempuan.
"Toreh nak tehnah", lamunan saya pecah. Tuan rumah mempersilahkan saya menyeruput teh yang disuguhkan. Rupanya semenjak tadi saya melamun, memikirkan bagaimana nanti saya menuliskan momen itu. Seperti biasa, saya menjadi pendiam saat berbaur dengan orang-orang yang jauh umurnya diatas saya. Tidak nyambung jika saya ikut membaur dengan obrolan mereka. Hanya saja saya dapat menyaring perbincangan mereka, yang sedikit saya sajikan dalam tulisan mengenai persaudaraan. Tanggapan saya menurut perbincangan yang dapat saya saring, persaudaraan merupakan pondasi utama dalam membangun kekeluargaan sehingga dapat terus menjadi rantai sambung-menyambung satu sama lain. Maka dari itu, pemuda Madura diwajibkan mencari saudara-saudaranya (nyareh Taretan), hingga terjalin hubungan persaudaraan di manapun dan sejauh apa pun. Begitu kira-kira kesimpulan yang dapat saya ambil.
Tak lama kemudian hidangan sederhana pun disuguhkan saat saya selesai menyimpulkan percakapan mereka. Ah, padahal hanya sekedar silaturahim kok sampai segitunya pikir saya. Dimanja seperti seorang raja. Pantaslah jika ada yang mengatakan tamu adalah raja, orang Madura tak hanya menjadikannya semboyan semata, tapi prakteknya setiap kali ada tamu. Diperlakukan layaknya seorang raja. Kembali saya kagum, dan menanyakan pada diri saya, kenapa baru kali ini saya merasa kagum? Kenapa tidak dari dulu?
"Toreh de'er nak jek dustodus, jek reng keluarga". Sambut sang tuan rumah mempersilahkan kami menikmati hidangannya. "Enggih toreh". Suasana malam yang menyegarkan pikiran, kesederhanaan yang menggemaskan pandangan saya. Sederhana tapi istimewa. Selepas makan malam itu, kembali berbincang-bincang ringan. Seperti biasa saya menjadi pendengar setia tanpa celetuk, hanya menyimpulkan dan menyimpulkan untuk dituangkan dalam tulisan. Tapi, tampaknya sudah larut malam. Tak terasa sudah jam 9:30, perbincangan mereka pun selesai dan hendak pulang. Sempat tidak diperbolehkan pulang, kami diminta menginap karna gerimis masih senang menemani malam. Tapi kami menolak halus dengan alasan gerimis tak mungkin jadi hujan, akhirnya kami diperbolehkan pulang. Sayangnya momen ini tidak saya abadikan dengan mengambil gambar kamera, ah cukup dengan tulisan saja.